uang adalah salah satu motivasi manusia yang utama (bagi kebanyakan manusia). sehingga tidak salah bagi sebagian orang yang berpandangan sebaliknya bahwa uang adalah sumber bencana, karena dengan mengejar uang,manusia akan lupa akan kehidupan kelak diakhirat.
uang bagaikan sebuah candu kehidupan, tak akan pernah berhenti untuk mencicipinya selama masih ada, dan disaat tidak ada manusia akan sekuat tenaga untuk memperolehnya sehingga tidak tersadar menjadi budak dari dari uang tersebut.
memang benar realitasnya kebanyakan manusia terlena dengan candu uang. dengannya kita bisa melakukan apapun. memiliki apapun, menikmati apapun, mencoba apapun apalagi keinginan manusia itu lebih banyak dari bumi dan seisinya, jadi tidak ada alasan berhenti mencari/mengejar uang. kerena logikanya jumlah uang yang dimiliki < dari keinginannya.
dengan realitas seperti ini tidak sedikit umat islam yang menjadikanya sebuah landasar pikiran bahwa umat islam atau secara personal setiap diri muslim lebih baik hidup biasa-biasa saja, menjauhkan diri dari keinginan berlebih terhadap dunia (uang), mengejar dunia (uang) berlebih, dan ditambah bahwa takdir itu sudah digariskan. bahwa kaya miskin itu akan terjadi dengan sendirinya (takdir). jadi .......
bahwa rosulullah dalam usia 25 tahun disaat menikahi siti Khodijah memberikan mahar dengan puluhan atau ratusan unta sebagai maharnya, menggunakan semua harta dari persusahaannya untuk islam, sahabat Abu bakar assidiq menebus/membeli Bilal dari kaum quraish yang kemudian dimerdekakannya sebagai seorang manusia merdeka dengan uangnya. Abdurrahman bin auf disaat hijrah ke madinah mencari pasar untuk dikemudian waktu berusaha untuk mendapatkan uang/harta dan dengan kondisi itu beliu tetep menjadi seorang sahabat nabi yang sholeh.
dalam al-qur'an Allah swt berfirman "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang orang yang sekiranya mereka
meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata
yang benar." (an-nissa: 9)
walau yang saya tahu dari ayat tersebut penafsiran tentang keturunan yang lemah tidak selalu di tafsirkan lemah akan harta, tetapi dalam artikel ini mari kita maknai kita harus takut pada Allah swt apabila kita meninggalkan keturunan yang lemah dari segi harta (keturunan yang miskin/melarat). karena sangat jelas korelasinya apabila umat islam fakir maka akan mudah terjerumus pada kekafiran. jelas sekali kalau kita cermati dijaman sekarang orang miskin tidak bisa lagi berfikir akan keimanan tapi tentang makan ga makan hari ini. siapa yang memikirkan islam???memperjuangkan islam???membangun sekolah untuk anak-anak agar paham islam, membangun rumah sakit untuk orang islam yang sakit? membuat undang-undang sebagai implentasi al-qur'an dan hadist apabila umat islam bodoh dan miskin.
MARI KITA BERFIKIRNYA KESANA........wallahua'alam.













0 komentar:
Posting Komentar